Gejala Penyakit Thalasemia

Gejala Penyakit Thalasemia |  Penyakit Thalasemia kedengaranya cukup awam bagi mereka yang tidak mengerti asal usul penyakit ini. Masyarakat belum menyadari kalau penyakit Thalasemia merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Umumnya penyakit Thalasemia merupakan penyakit genetik atau turunan.  Yang artinya jika salah satu orang tua anak, baik itu Ibu atau Ayah yang mempunyai gen Thalasemia maka kemungkinan turunanya atau anak yang dilahirkan juga akan menderita penyakit Thalasemia. Namun bagi oarang tua yang menderita penyakit ini tidak perlu khawatir dan panik, karena meskipun demikian masih ada kemungkinan keturunan atau anak dari pasangan gen Thalasemia akan terlahir menjadi anak yang normal dan terbebas dari penyakit Thalasemia.
gejala-penyakit-thalasemia.jpg
Gejala Penyakit Thalasemia


Penyakit Thalasemia merupakan penyakit genetik yang terjadi akibat adanya gangguan di dalam sel darah merah (erotrosit) dalam sintesis atau pembentukan hemoglobin yang mengakibatkan kerusakan pada sel darah dimana produksi eritrosit dan hemoglobin berkurang atau menurun. Penderita penyakit Thalasemia umumnya tidak bisa memproduksi protein pada jumlah yang mencukupi akibat nya pembentukan sel darah merah (eritrosit) tidak sempurna. Apabila sel darah merah tidak terbentuk secara sempurna akan menyebabkan gangguan pada pengangkutan oksigen yang dapat berakibat penderita Thalasemia mengalami pembesaran limfa dan hati, pembentukan tulang muka yang tidak normal.

Limfa berfungsi membersihkan sel darah yang rusak. Pembesaran limfa pada penderita Thalasemia terjadi karena sel darah merah yang rusak sangat berlebihan sehingga kerja limfa sangat berat. Selain itu tugas limfa diperberat untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak. Pembesaran pada limfa bisa menyebabkan terjadinya hiperplenisme yang bisa menyebabkan trombositopenia dan juga pendarahan. Tulang muka merupakan tulah pipih. Tulang pipih berfungsi memproduksi sel darah.  Akibat Thalasemia tulang pipih akan lebih banyak memproduksi sel darah sehingga terjadi pembesaran pada tulang pipih. Pada muka dapat dilihat dengan adanya penonjolan dahi, menjauhnya jarak antara kedua mata dan penonjolan tulang pipi.

Ada dua jenis penyakit Thalasemia yang dapat dibedakan, yaitu :
1. Thalasemia Alfa
Jenis Thalasemia Alfa merupakan kelainan pada delasi kromosom 16 yang merupakan kekurangan dari sintesi rantai alfa. Saat mengalami Thalasemia Alfa terjadi penurunan dari rantai alfa globin sehingga rantai beta dan gamma yang seharusnya berpasangan tidak berpasangan dalam jumlah yang banyak.
a. Thalasemia Alfa Minor
Penyakit Thalasemia Alfa minor terjadi apabila kedua gen pengaturan produksi protein yang berjenis alfa globin mengalami kelainan (abnormal) atau bahkan tidak ada. Umumnya tidak akan menyebabkan gangguan yang berarti akan tetapi jika sudah terpapar penyakit anemia ringan kelainan pada gen tersebut kemungkinan besar akan diturunkan pada anaknya.
b. Thalasemia Alfa Mayor
Thalasemia mayor terjadi apabila penderita tidak mempunyai gen perintah produksi protein globin. Kondidi ini akan mengakibatkan janin yang terkandung akan menderita anemia parah, penimbunan cairan dalam tubuh, dan penyakit jantung. Akibatnya janin tersebut meninggal dalam kandungan (Still Birth) atau bisa juga bayi akan meninggal setelah beberapa jam dilahirkan.

2. Thalasemia Beta
Anak yang menderita Thalasemia Beta mengalami anemia yang sangat berat. Karena Thalasemia Betta mengalami penurunan sintesa rantai beta. Thalasemia beta memmiliki beberapa tingkatan yaitu mayor, intermedia dan karier. Anak yang menderita Thalasemia Beta maka seumur hidupnya harus menjalani transfusi darah.
a. Thalasemia Beta Minor
Jenis penyakit ini tidak menimbulkan gejala apapun, sehingga akan menyebabkan penderita mengalami anemia ringan  serta terjadinya ketidaknormalan pada sel darah merah.
b. Thalasemia Beta Mayor
jenis penyakit Thalasemia ini lah yang paling parah. Biasanya pada bayi yang baru lahir akan mengalami sering sakit selama 1 sampai 2 tahun pertama. Gejala yang ditimbulkan bayi akan terlihat pucat, nafsu makan yang rendah dan rewel. Selain itu pertumbuhan dan perkembangan akan mengalami keterlambatan yang diakibatkan dari sirkulasi gizi yang tidak lancar.
Adanya hepatosplenomegali ikterus ringan bisa saja ada, terjadinya perubahan pada tulang yang menetap yakni akan terjadinya bentuk wajah mongoloid (face cooley) yang biasanya diakibatkan dari sistem eritropoesit yang hiperaktif. Adanya penipisan pada kortek tulang panjang tangan dan kaki yang dapat menimbukan fraktur patologis sehingga mengakibatkan penyimpanan pertumbuhan akibat dari anemia dan kekurangan gizi yang akan menyebabkan perawakan pendek. Terkadang pada kasus lain terjadi epistaksis pada pigmen kulit, batu empedu dan koreng pada tungka sehingga enderita akan lebih peka terhadap infeksi, pasien mengalami septisema yang bisa mengakibatkan kematian. Hemoglobin penderita penyakit Thalasemia mengandung kadar HbF lebih dari 30%, terkadang ditemukan hemoglobin patologik.      

  •          Lemas,mudah lelah
  •          Susah tidur
  •          Jantung berdebar keras
  •          Anggota tubuh terlihat pucat karena kekurangan darah merah
  •          Kulit akan berubah menjadi kuning
  •          Tulang wajah memiliki kelainan tidak seperti pada orang kebanyakan
  •          Pertumbuhan yang lambat
  •          Pembengkakan perut karena limfa yang membengkak
  •          Urin akan gelap seperti pada penderita penyakit kanker otak

Makanan yang tidak boleh dikonsumsi penderita Thalasemia
  •          Alkohol
  •         Telur, konsumsi telur akan menyebabkan Thalasemia semakin parah
  •          Sayuran Hijau
  •         Hati hewan
  •          Gandum
  •          Daging merah


Makanan yang boleh dikinsumsi oleh penderita Thalasemia
  •  Daging ayam
  • Sayuran berwarna cerah (kol, sawi, bayam), harus di ingat jika waktunya transfusi sebaiknya  kurangi konsumsi makanan yang mengandung zat besi karena akan menyebabkan fungsijantung dan hati rusak.
  • Umbi-umbian
  • Susu
  • Keju

Pengobatan Thalasemia
Hingga saat belum diketahui secara pasti obat Thalasemia dan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya secara total. Pengobatan yang dilakukan melalui transfusi darah biasanya diberikan apabila kadar Hb memang sudah rendah. Transfusi diakukan untuk membantu mencegah terjadinya ekspansi sumsum tulang, deformitas muka dan membantu meminimalkan dilatasi jantung atau penyakit osteoporosis. Untuk mengeluarkan zat besi dari jaringan di dalam tubuh biasanya diberikan iron chelating agent yakni desferal yang diberikan secara intramuscular atau intraven. Terapi yang diberikan untuk penyakit Thalasemia dilakukan dengan teratur untuk membantu dalam mempertahankan kadar Hb dalam darah, sehingga memungkinkan penderita Thalasemia bisa beraktifas secara normal.

Artikel Ciri Gejala Penyakit Lainnya :

Scroll to top